Kamis, 08 Maret 2012

agama dan IPTEK FORMALIN SEBAGAI BAHAN PENGAWET MAKANAN


FORMALIN SEBAGAI BAHAN PENGAWET MAKANAN

Oleh:
Yudistira Nalle
Magdalena Mara Leo
Nova Leoanak
Santi Sanak
Marthen Bili
Ephafroditus Radja

Deskripsi
Seorang pakar kimia, Bambang Kuswandi,PhD, mengemukakan bahwa banyaknya kasus kanker yang diderita masyarakat di hampir semua strata, salah satunya disebabkan karena banyak makanan yang dikonsumsi mengandung unsur formalin. Dibandingkan dengan tahun 1970-an, sekarang ini kasus penyakit kanker sangat banyak ditemui di masyarakat. Penyebabnya karena (selain faktor genetik) makan yang kurang sehat, salah satunya karena mengandung formalin.

Warga Kupang Diminta Hati-hati Mengonsumsi Ikan Asin Dan Mie Basah[2]

            Masyarakat di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) diminta hati-hati dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi, karena dari hasil uji sampel yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Kupang, ternyata mendapatkan produk ikan kering dan mie basah mengandung bahan pengawet mayat, formalin. Kepala Dinas Kesehatan Kota Kupang dr Dominggus Sarambu menyatakan di Kupang, Sabtu (21/1/2006), hasil pemeriksaan laboratorium BPOM Kupang memastikan ikan kering dan mi basah mengandung formalin. Karena itu, pihaknya meminta masyarakat untuk berhati-hati. Ditemui di kantornya, Sabtu (21/1/2006) pagi, Dominggus menjelaskan, sejak mencuatnya kasus formalin yang dipakai untuk mengawetkan ikan dan mi basah di sejumlah daerah, Dinkes Kota Kupang mulai mengintensifkan pengawasan terhadap peredaran mi kuning basah di pasar-pasar di Kota Kupang. Hasil pemeriksaan laboratorium dari BPOM Kupang disebutkan ada kandungan formalin pada mie basah dan ikan kering yang dipasarkan di Kota Kupang.
            Menangapi pernyataan di atas Dokter Kamulis menambahkan, sudah ada beberapa kasus di Kupang khususnya kasus kanker paru-paru dan radang paru-paru dicurigai (hal ini karena proses menjadi kanker ataupun radang yang disebabkan oleh formalin, membutuhkan jangka waktu yang cukup lama, sehingga sulit untuk mengidentifikasibahwa apakah kanker tersebut diakibatkan oleh formalin atau faktor genetik) disebabkan oleh formalin. Namun bila melihat dari laporan BPOM Kupang diatas, semakin memperkuat dugaan kami bahwa sudah ada khasus radang maupun kanker yang diakibatkan oleh formalin.[3]


 Analisis
Formalin adalah larutan yang tidak berwarna dan baunya sangat menusuk. Di dalam formalin terkandung sekitar 37 persen formaldehid dalam air. Biasanya ditambahkan metanol hingga 15 persen sebagai pengawet. Formalin adalah teknologi yang diperuntukan dan dikenal sebagai bahan pembunuh hama (desinfektan) dan banyak digunakan dalam industri. Nama lain formalin adalah Formol, Methylene aldehyde, Paraforin, Morbicid, Oxomethane, Polyoxymethylene glycols, Methanal,  Formoform,   Superlysoform, Formic aldehyde,  Formalith, Tetraoxymethylene, Methyl oxide, Karsan, Trioxane, Oxymethylene, Methylene glycol.[4] Adapun kegunaan formalin adalah[5]:
Ø  Pembunuh kuman sehingga dimanfaatkan untuk pembersih : lantai, kapal, gudang dan pakaian pembasmi lalat dan berbagai serangga lain
Ø  Bahan pembuatan sutra buatan, zat pewarna, cermin kaca dan bahan peledak 
Ø  Dalam dunia fotografi biasaya digunakan untuk pengeras lapisan gelatin dan kertas
Ø  Bahan pembuatan pupuk dalam bentuk urea
Ø  Bahan pembuatan produk parfum
Ø  Bahan pengawet produk kosmetika dan pengeras kuku
Ø  Pencegah korosi untuk sumur minyak
Ø  Bahan untuk insulasi busa bahan perekat untuk produk kayu lapis (plywood)
Ø  Dalam konsentrasi yag sangat kecil (1 persen) digunakan sebagai pengawet untuk berbagai barang konsumen seperti pembersih rumah tangga, cairan pencuci piring, pelembut, perawat sepatu, shampoo mobil, lilin dan karpet.

 Penggunaan Formalin Yang Salah
Penggunaan formalin yang salah adalah hal yang sangat disesalkan. Melalui sejumlah survey dan pemeriksaan laboratorium, ditemukan sejumlah produk pangan yang menggunakan formalin sebagai pengawetnya. Penggunaan formalin dalam bahan makanan didorong oleh :
1.      Faktor ekonomis (keuntungan). Para penjual yang menggunakannya dapat memperoleh keuntungan berlipat-lipat karena makanan yang menggunakan formalin dapat bertahan lama. Dosis yang biasa digunakan adalah 20-30 mg/kg.
2.      Faktor pengetahuan. Ada pedagang yang kurang memiliki pengetahuan tentang formalin sehingga tanpa pikir panjang mereka menggunakannya dalam makanan.[6] Padahal sekecil apapun dosis formalin yang terkandung dalam bahan makan tetap berbahaya bagi kesehatan.

Bahaya Penggunaan Formalin Secara Salah[7] 
Dalam penggunaannya formalin mempunyai bahaya bagi manusia di antaranya:
Bahaya jangka pendek (akut):
Ø  Bila terhirup akan menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan, gangguan pernafasan, rasa terbakar pada hidung dan tenggorokan serta batuk-batuk. kerusakan jaringan dan luka pada saluran pernafasan seperti radang paru, pembengkakan paru. Tanda-tanda lainnya meliputi bersin, radang tekak, radang tenggorokan, sakit dada, yang berlebihan, lelah, jantung berdebar, sakit kepala, mual dan muntah. Pada konsentrasi yang sangat tinggi dapat menyebabkan kematian.
 Ø  Apabila terkena kulit maka akan menimbulkan perubahan warna, yakni kulit menjadi merah, mengeras, mati rasa dan ada rasa terbakar.
Ø  Apabila terkena mata dapat menimbulkan iritasi mata sehingga mata memerah, rasanya sakit, gata-gatal, penglihatan kabur dan mengeluarkan air mata. Bila merupakan bahan berkonsentrasi tinggi maka formalin dapat menyebabkan pengeluaran air mata yang hebat dan terjadi kerusakan pada lensa mata.
Ø  Apabila tertelan maka mulut, tenggorokan dan perut terasa terbakar, sakit ketika menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan , sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal.
Bahaya jangka panjang (kronis):
Ø  Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru; Efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi dan daya ingat berkurang; gangguan haid dan kemandulan pada perempuan;  Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak.
Ø  Apabila terkena kulit, kulit terasa panas, mati rasa, gatal-gatal serta memerah, kerusakan pada jari tangan, pengerasan kulit dan kepekaan pada kulit, dan terjadi radang kulit yang menimbulkan gelembung.
Ø  Jika terkena mata, bahaya yang paling menonjol adalah terjadinya radang selaput mata.
Ø  Bila tertelan akan menimbulkan iritasi pada saluran pernafasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada.

 Formalin dan Dampaknya Menurut Dr. Widodo judarwanto[8]

Formalin masuk ke dalam tubuh manusia melalui dua jalan, yaitu mulut dan pernapasan. Sebetulnya, sehari-hari ada kemungkinan kita menghirup formalin dari lingkungan sekitar. Polusi yang dihasilkan oleh asap knalpot dan pabrik, mengandung formalin yang mau tidak mau kita hirup, kemudian masuk ke dalam tubuh. Asap rokok atau air hujan yang jatuh ke bumi pun sebetulnya juga mengandung formalin.
Formalin sangat berbahaya jika terhirup, mengenai kulit dan tertelan. Jika kandungannya dalam tubuh tinggi, akan bereaksi secara kimia dengan hampir semua zat di dalam sel, sehingga menekan fungsi sel dan menyebabkan kematian sel yang menyebabkan kerusakan pada organ tubuh.
Formalin merupakan zat yang bersifat karsinogenik (bisa menyebabkan kanker). Beberapa penelitian terhadap tikus dan anjing pemberian formalin dalam dosis tertentu jangka panjang secara bermakna mengakibatkan kanker saluran cerna seperti adenocarcinoma pylorus, preneoplastic hyperplasia pylorus dan adenocarcinoma duodenum. Penelitian lainnya menyebutkan pengingkatan resiko kanker faring (tenggorokan), sinus dan cavum nasal (hidung) pada pekerja tekstil akibat paparan formalin melalui hirupan.
Menurut IPCS (International Programme on Chemical Safety), secara umum ambang batas aman di dalam tubuh adalah 1 miligram per liter. IPCS adalah lembaga khusus dari tiga organisasi di PBB, yaitu ILO, UNEP, serta WHO, yang mengkhususkan pada keselamatan penggunaan bahan kimiawi. Bila formalin masuk ke tubuh melebihi ambang batas tersebut maka dapat mengakibatkan gangguan pada organ dan system tubuh manusia. Akibat yang ditimbulkan tersebut dapat terjadi dalam waktu singkat atau jangka pendek dan dalam jangka panjang sebagaimana yang dipaparkan sebelumnya.
Meskipun dalam jumlah kecil, dalam jangka panjang formalin juga bisa mengakibatkan banyak gangguan organ tubuh. Apabila terhirup dalam jangka lama maka akan menimbulkan sakit kepala, gangguan sakit kepala, gangguan pernafasan, batuk-batuk, radang selaput lendir hidung, mual, mengantuk, luka pada ginjal dan sensitasi pada paru; gangguan otak yang mengakibatkan efek neuropsikologis meliputi gangguan tidur, cepat marah, gangguan emosi, keseimbangan terganggu, kehilangan konsentrasi, daya ingat berkurang dan gangguan perilaku lainnya. Dalam jangka panjang dapat terjadi gangguan haid dan kemandulan pada perempuan; Kanker pada hidung, ronggga hidung, mulut, tenggorokan, paru dan otak juga bisa terjadi.

Pro Kontra Terhadap Formalin Dalam Bahan Makanan

1.      Pendapat Dr. Yuswanto.[9] (Pro )
Sekalipun dampak-dampak ini di paparkan adapun yang pro terhadap formalin seperti contoh penilitan berikut ini: Kandungan formalin pada bahan makanan ternyata tidak akan menimbulkan efek negatif bagi manusia. Termasuk kandungan formalin yang terdapat pada mie basah, ikan segar, tahu, dan ikan asin. Dekan Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma (USD) Dr Yuswanto menjelaskan, berdasarkan penelitian yang dilakukan pihaknya pada tahun 2002, kandungan formalin pada mie basah di pasar Jogja sekitar 20 mg/kg mie. Kadar itu belum secara signifikan menimbulkan toksifikasi bagi tubuh manusia. Penelitian WHO menyebutkan kadar formalin baru akan menimbulkan toksifikasi atau pengaruh negatif jika mencapai 6 gram/kg makanan". Menurut Yuswanto, sebenarnya proses alam juga menghasilkan zat formalin yang selanjutnya terserap oleh sayur-sayuran, buah dan daging hewan. Lagi pula Formalin  yang masuk ke tubuh manusia akan diurai dalam waktu 1,5 menit menjadi CO2.
Kandungan formalin baru akan menimbulkan bahaya jika dihirup oleh alat pernapasan. Jika hanya dicerna alat pencernaan, tidak akan menimbulkan resiko negatif. Pemakaian formalin hanya merugikan kalangan peternak, ketika mereka menghirup formalin lewat alat pernapasan, berpotensi menimbulkan kanker paru-paru.

Yuswanto menyimpulkan, ada kesalahan informasi di masyarakat tentang bahaya formalin di mie basah, ikan segar, dan ikan asin. Sebenarnya, ketika formalin masuk melalui alat pencernaan, tidak akan berpengaruh negatif. Kondisi itu akan berbeda jika secara terus menerus formalin masuk melalui alat pernafasan, maka dikhawatirkan akan menyebabkan kanker paru-paru. Perokok juga berpotensi menghirup formalin dari setiap batang rokok yang dikonsumsinya. Ketika setiap hari menghisap 20 batang rokok, sama saja setiap hari menghirup 10 mg formalin.
Secara alami, setiap liter darah manusia mengandung formalin 3 mililiter. Sedangkan formalin yang masuk bersama makanan akan didegradasi menjadi CO2 dan dibuang melalui alat pernapasan. Jadi, menurut Yuswanto meski formalin dikonsumsi dalam jangka waktu yang cukup lama, tidak akan terjadi proses akumulasi dan menyebabkan toksifikasi. Jadi menurut  Yuswanto,  informasi yang berkembang di masyarakat salah kaprah. Sebab, baru dalam dosis besar yakni sekitar 6 gram/kg makanan, formalin akan memunculkan efek negatif bagi tubuh manusia.  
Lagi-lagi yang dirugikan masyarakat kecil. Penjual mie basah, tahu, dan ikan asin dirugikan. Seharusnya, kita berpegang pada hasil penelitian yang akurat. Pemerintah harus segera mengambil sikap atas kekacauan ini.

2.      Pendapat Rud D. Laiskodat[10], (Kontra)
Menurut Ibu Rut Laiskodat (BPOM Kupang ), suatu produk IPTEK harus dilakukan dalam sebuah proses yang penjang sebelum memvonis bahwa produk itu baik untuk manusia. Begitu juga dengan formalin. Untuk memutuskan aman dan tidaknya formalin bagi manusia harus dilakukan penilitian dari tingakat rendah ke tinggi (tikus-primata-manusia), dan itu membutuhkan sebuah proses yang lama. Proses yang lama itu telah dilakukan oleh BPOM dan mencapai kesimpulan bahwa formalin tidak aman bagi manusia jika di gunakan sebagai bahan tambahan makanan. Keputusan ini di tetapkan dalam peraturan MENKES tahun 1988 No.722 tentang batas maksimum cemaran logam dalam bahan makanan yaitu lampiran 1 (satu) mengenai bahan-bahan tambahan makanan yang di perbolehkan di antaranya asam askorbat, garam kalium, garam kalsium, garam natrium, dll; dan lampiran 2 dua) mengenai bahan-bahan yang tak diperbolehkan, termasuk di dalamnya formalin.
Formalin pun tidak aman seklipun melalui saluran pencernaan, hal ini karena daya menguap yang tinggi dari formalin lebih cepat dari proses metabolisme tubuh. Jadi sekecil apapun formalin yang masuk ke dalam tubuh akan mengendap dalam tubuh manusia yang dalam waktu cepat atau lamabat akan menimbulkan akibat-akibat seperti yang telah disebutkan di atas.

Interpretasi Teologis
Formalin adalah hasil dari kemajuan IPTEK yang juga adalah pemberian Tuhan. Dengan adanya formalin manusia dapat tertolong dalam berbagai hal. Misalnya mengawetkan mayat, dalam membuat sutra, pembersih lantai dan lain-lainnya. Dalam perkembangannya formalin digunakan oleh para pedagang untuk mngawetkan makanan. Karena formalin dapat membuat makanan bertahan lama, bagi para pedagang kecil, formalin dianggap sebagai dewa penolong. Dikatakan sebagai dewa penolong sebab, dengan menggunakan formalin mereka bisa terhindar dari kerugian akibat kerusakan makanan. Jika mereka menggunakan formalin, makanan yang tidak habis terjual hari ini dapat mereka jual kembali di esok hari. Dengan demikan keuntungan yang mereka dapat bisa berlipat ganda. Namun ketika masyarakat mengkonsumsi makanan berformalin itu, mulai menimbulkan berbagai penyakit yang mematikan. Pertanyaannya adalah: apakah etis menggunakan formalin dalam makanan? apakah formalin masih pemberian Tuhan?
Dalam I Kor. 3:17 dikatakan bahwa tubuh kita adalah bait Allah. Dengan demikian barang siapa merusak tubuhnya atau merusak tubuh sesamanya sama dengan merusak Bait Allah. Di antara mahkluk-mahkluk di muka bumi ini, Allah hanya melakukan perjanjian dengan manusia dan dalam perjanjian itu manusia bertanggungjawab terhadap Allah. Dalam persekutuan yang khusus itu akan selalu terdengar pertanyaan dari Allah: “Adam di manakah engkau?” dan “Kain di manakah adikmu?”.[11] Allah selalu meminta pertanggungjawaban kita akan apa yag kita buat terhadap diri kita sendiri dan apa yang kita buat terhadap diri sesama kita. Pertanggungjawaban manusia ini merupakan satu pengertian pokok dari etika Kristen. Tanpa pertanggungjawaban ini tidak mungkin ada etika Kristen. Dengan demikian tidak etis bila kita memasukan formalin dalam bahan makanan.
Sewaktu manusia diciptakan, ia dilengkapi dengan akal dan budi. Adanya  akal dan budi ini membuat manusia berbeda dengan makluk lainnya, bahkan manusia dipanggail oleh Allah untuk memenuhi dan menaklukan bumi (Kej.1:28). Dengan akal dan budi manusia mampu menciptakan berbagai IPTEK untuk memenuhi kebutuhannya. Dengan demikian formalin pun adalah pemberian Tuhan. Namun sering kali iblis memakai IPTEK untuk memperdaya kita melalui tipu muslihatnya. Internet, ponsel, televise, mobil, bahkan Formalin atau apapun bisa membuat kita jatuh dalam pencobaan. Apapun bentuk pencobaannya, sadar atau tidak sadar IPTEK sering kali membuat kita terlena. Dengan demikian dapat kita lihat bahwa IPTEK itu berwajah dua (ambivalen), ibarat dua mata koin yang tak bisa dipisahkan. Kebaikan dan keburukan dari IPTEK selalu berjalan beriringan.
 Melihat kenyatan bahwa IPTEK itu ambivalen, lalu apa sikap atau tindakan kita terhadap IPTEK? Mau tetap menggunakannya atau membuangnya sama sekali? Amsal 1:7 memberikan dasar bagi kita bagaimana harus bersikap terhadap perkembangan IPTEK.  Apapun IPTEK itu adalah baik apabila kita menciptakan dan menggunakannya dengan takut akan Tuhan dan untuk melayani sesama. ini merupakan pegangan supaya kita tidak jatuh dalam pencobaan karena IPTEK.

 Tanggapan Kelompok
           
Berdasarkan penjelasan di atas kelompok dapat melihat bahwa sesungguhnya Formalin itu besifat ambivalen, dalam arti bahwa selain mempunya sisi baik, formalin juga mempunyai  sisi buruk. Namun ini bukan berarti kita harus menghindari formalin atau membuangnya sama sekali. Hal ini karena masih ada sisi baik dari formalin. Hal yang sangat kelompok tidak setuju adalah apa bila formalin digunakan sebagai bahan pengawet makanan. Kelompok tidak setuju karena tiga alasan mendasar yaitu: dapat membawa penyakit yang berbahaya bagi manusia, tidak beretika dan tidak manusiawi, bahkan merupakan suatu kejahatan. Tidak ada IPTEK untuk IPTEK. IPTEK selalu harus untuk kebaikan manusia. Dengan demikian IPTEK tidak bisa bebas dari nilai-nilai kemanusiaan. Maka formalin pun demikian harus digunakan dengan takut akan Tuhan dan mempertimbangkan nilai-nilai kemanusiaan atau nilai-nilai kehidupan.

Aksi

1.      BPOM harus memberikan penyuluhan secara mendasar kepada masyarakat umum mengenai formalin agar masyarakat dapat membedakan mana makanan yang terkandung formalin dan mana yang bukan.
2.      Pemerintan perlu diadakan sosialisasi yang terus-menerus kepada semua lapisan masyarakat mengenai peraturan Menkes No.722 Thn 1988, yang berisikan tentang bahan-bahan tambahan makan yang diperbolehkan dan yang tidk diperbolehkan.
3.      Kepada para penjual agar dapat menggunakan bahan tambahan makanan (pengawet) yang dianjurkan oleh BPOM.
4.      Bagi para pendeta  harus peka terhadap perkembangan IPTEK dan berani menyatakan kegunaannya melalui pemberitaan Firman di atas mimbar. Termasuk di dalamnya mengenai formalin. Hal ini kerena baik dan buruknya suatu IPTEK juga merupakan pergumulan jemaat.
5.      Gereja sebagai sebuah institusi perlu menjalankan fungsinya sebagai teknokritis dengan cara memanggil dan mempekerjakan jemaat yang mempunyai talenta atau keahlian di bidang kesehatan.
6.      Mengsosialisasikan kepada masyarakat mengenai cara mengenali makanan yang terkontaminasi formalin. Cara mengenali makanan yang mengandung formalin adalah sebagai berikut:[12]
·            Tahu yang bentuknya sangat bagus, kenyal, tidak mudah hancur / rusak / busuk sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius), terlampau keras, namun tidak padat, bau agak mengengat
·            Mie basah yang awet beberapa hari dan tidak mudah basi dibandingkan dengan yang tidak mengandung formalin, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es ( 10 derajat Celsius), bau agak menyengat, tidak lengket dan mie lebih mengkilap dibandingkan mie normal
·            Ayam potong yang berwarna putih bersih, awet dan tidak mudah busuk.
·            Ikan basah yang warnanya putih bersih, kenyal, insangnya berwarna merah tua bukan merah segar, awet sampai beberapa hari dan tidak mudah busuk; tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius); bau menyengat;
·            Baso yang tidak rusak sampai lima hari pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius), teksturnya sangat kenyal;
·            Ikan asin yang tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu kamar ( 25 derajat Celsius), bersih cerah, tidak berbau khas ikan asin
·            Pada umumnya semua makanan yang mengandung formalin tidak di hinggapi oleh lalat

  

DAFTAR PUSTAKA

Verkuyl J, Etika Kristen Bagian Umum. BPK: Jakarta, 2008
Darmaputera Eka, Etika Sederhana Untuk Semua, BPK: Jakarta, 2001
Formalin.BPOM.2009
Formalin Bukan Formalitas. Cp-Bulletin Service, edisi 2006
Formalin Penyebab Mingkatnya Kasus Kanker. Kapanlagi.com, 28 Desember 2005

Grandfa, Anda Bertanya ,Badan POM Menjawab; Mengenal Formalin Dan Bahayanya, www.shvoong.com. 23 Agustus 2005

Dr Widodo Judarwanto SpA. Pengaruh Formalin Bagi Sistem Tubuh, Rumah Sakit Bunda: Jakarta, 01 Februari 2006
Izzah Zakiyawati,Formalin di Makanan Tak Berbahaya, Radar Jogja: Minggu, 08 Jan 2006 
Supardan, Ilmu, Teknologi dan Etika, BPK: Jakarta, 1996
Warga Kupang Diminta Hati-hati Mengonsumsi Ikan Asin dan Mi Basah. SuaraKaryaonline.com, 22 Januari 2006

www.pom.go.id, Mengenal Formalin Dan Bahayanya, 24 Januari 2006



[1] Kapanlagi.com.28 Desember 2005
[2] SuaraKaryaonline.com. 22 Januari 2006
[3] Kamilus Karangora, wawancara, 4 Februari 2011
[4]Grandfa, Anda Bertanya,Badan POM Menjawab; Mengenal Formalin Dan Bahayanya,www.shvoong.com. 23 Agustus 2005
[5] Ibid.
[6] Wawancara penjual ikan kering, penjual tahu dan mei basah di pasar Oeba, Sabtu 22 januari 2011, menemukan bahwa: banyak penjual tahu, ikan kering, dan mie basah hanya mengenal nama formalin, tetapi tidak mengetahui secara mendalam tentang fungsi maupun bahaya dari formalin.
[7] Formalin, BPOM, 2009
[8] Dr Widodo Judarwanto SpA., Pengaruh Formalin Bagi Sistem Tubuh, Rumah Sakit Bunda: Jakarta, 01 Februari 2006
[9] Izzah Zakiyawati, Formalin di Makanan Tak Berbahaya, Radar Jogja: Minggu, 08 Jan 2006 

[10] Rud D. Laiskodat, Wawancara, 20 Desember 2010

[11] J Verkuyl, Etika Kristen Bagian Umum, BPK, Jakarta, 2008, hlm.34

[12]  www.pom.go.id, Mengenal Formalin Dan Bahayanya, 24 Januari 2006


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar